Drs. Abdul Basyid Has

Latest Posts

77.186 Anak di Kepri Tak Sekolah, Abdul Basyid Has: Perlu Ada Regulasi yang Tepat

77.186 Anak di Kepri Tak Sekolah, Abdul Basyid Has: Perlu Ada Regulasi yang Tepat

Batam – Pendidikan menjadi salah satu kunci utama dalam pembangunan daerah. Namun, di beberapa daerah pendidikan masih menjadi problem tersendiri dengan menumpuknya jumlah anak tak bersekolah juga problem kesejahteraan guru.

Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2016 menyebutkan sebanyak 77.186 anak usia sekolah 7-18 tahun di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), tidak bisa menikmati layanan pendidikan di sekolah. Dari 77.186 anak tidak bisa menikmati layanan pendidikan sebanyak 34.930 anak usia sekolah dasar (SD), 17.460 anak usia sekolah menengah pertama (SMP), dan 24.795 anak usia sekolah menengah atas (SMA).

Menanggapi kondisi tersebut, Pembina Gerakan Kebangkitan Bangsa (GKB) Provinsi Kepri, Abdul Basyid Has mengatakan, masih tingginya anak usia sekolah yang tidak menikmati pendidikan di Kepri di antaranya disebabkan tidak adanya regulasi yang kuat untuk akses pendidikan wajib belajar (wajar) 12 tahun.

“Pemerintah Daerah perlu menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) untuk wajar 12 tahun, Pemda harus punya regulasi yang tepat untuk mendorong anak-anak di Kepri bisa sekolah secara menyeluruh,” ujar Basyid, saat ditemui awak media usai mengisi dialog dengan para guru di Hang Nadim Malay School, di Batam, Senin, (4/6).

Read More

Hari Lahir Pancasila, Ketua PKB Kepri: Momentum Bangkitkan Semangat Pancasila

Hari Lahir Pancasila, Ketua PKB Kepri: Momentum Bangkitkan Semangat Pancasila

Peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada setiap tanggal 1 Juni selalu disambut baik oleh masyarakat Indonesia, sejak ditetapkan Presiden Jokowi pada 1 Juni 2016 lalu. Masyakarat pun antusias mempringatinya dengan berbagai macam kegiatan.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Abdul Basyid Has mengatakan, peringatan ini adalah momentum bersejarah bagi bangsa Indonesia.

“Momentum untuk memaknai perjuangan para pahlawan dan membangkitan semangat Pancasila dalam kehidupan kita,” ujar Basyid usai menghadiri rapat koordinasi di Batam, Jum’at (1/6/2018).

Read More

Hang Nadim Malay School-Telkomsel Luncurkan Program SISKA

Hang Nadim Malay School-Telkomsel Luncurkan Program SISKA

Zaman terus berkembang, komunikasi pun ikut berkembang. Jika dulu komunikasi yang efektif melalui penyampaian lisan maupun tulisan, tapi zaman now (sekarang, red) komunikasi yang efektif lewat jempol di telepon seluler (ponsel). Sekolah Islam Hang Nadim Malay School menangkap peluang ini, bekerja sama dengan operator provider nasional Telkomsel meluncurkan program sistim informasi sekolah dan akademik (SISKA).

Orang Tua Bisa Pantau Anaknya Secara Digital

Program SISKA ini, anak datang ke sekolah membawa kartu elektronik Telkomsel cash (t-cash). T-cash tersebut di-scan di tempat yang sudah disediakan yakni semacam tempat finger print di lingkungan kerja perusahaan. Setelah di-scan, beberapa detik kemudian operator Telkomsel secara otomatis mengirimkan pesan sing­kat (short message service/ SMS) kepada orang tua bahwa anaknya masuk jam berapa.

”Program SISKA ini memberikan informasi ke orang tua, sehingga orang tua gak perlu was-was lagi sama anaknya sudah sampai di sekolah atau belum. Pintu masuknya adalah absen, dari absen bisa mengakses laman-laman yang disediakan di program SISKA,” beber Basyid.

Dengan SISKA ini, Sekolah Islam Hang Nadim Malay School memberikan komunikasi digital antara anak dengan orang tuanya. Yang mana, setiap anak diberikan password untuk membuka laman SISKA Hang Nadim Malay School. Berbagai informasi ditampilkan dalam laman SISKA Hang Nadim Malay School. Mulai dari tugas sekolah, dan sebagainya termasuk informasi dari sekolah ke orang tua.

T-cash itu tidak hanya untuk absen, tetapi juga bisa dipakai belanja di kantin dengan tidak membawa uang tunai (transaksi nontunai). Orang tua bisa mengisi berapa nilai saldo rupiah di kartu t-cash anaknya, sehingga orang tua bisa mengatur limit belanja anaknya. T-cash tersebut tinggal di-scan ke penjaga kantin, bisa belanja sesuai saldo rupiah di t-cash anak.

”Dengan program SISKA ini, anak-anak sudah diperkenalkan teknologi digital. Sehingga, ini jadi bekal menambah sikap mental anak siap meng­hadapi perkembangan teknologi yang mau tak mau pasti dihadapi dan tak bisa dihambat perkem­bangannya,” jelasnya.

Ke depan, aku Basyid, dirinya akan terus melakukan inovasi-inovasi mendidik anak yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang dilandasi iman dan takwa yang berkarakter Islami. Disebutkannya, mengembangkan inovasi pendidikan di Kepri merupakan bentuk kepeduliannya terhadap bangsa dan negara untuk ikut terlibat mencerdaskan kehidupan bangsa.

”Saya konsen mempersiapkan generasi 10-20 tahun ke depan. Di mana saya melihat, bahwa pemimpin yang sekarang rusak akibat pendidikan 10-20 tahun lalu yang rusak,” ujar Basith, tokoh yang selain nasionalis juga dikenal tidak alergi dengan perbedaan dengan berpegang teguh pada nilai dan karakter Islami.

Hal itu dibuktikan Basyid di Hang Nadim Malay School dengan menerapkan pendidikan karakter nilai Islami. Ia sangat menekankan pendidikan karakter sebagai standarisasi akhlakul karimah dengan nilai-nilai Islami. Anak-anak masuk sekolah harus salam tangan guru dan mencium tangan sang guru. Kemudian, anak-anak didik menghormati guru seperti menghormati orang tuanya. Jika ada anak-anak yang berkata-kata kasar terdengar oleh anak-anak yang lain, anak-anak jadi ”ribut” memberi tahu ke guru kalau ada anak yang berkatakata kasar.

”Itu artinya, anak-anak tidak mentolerir dan menerima kalau ada anak yang karakternya di luar nilai Islami. Kebersihan diprioritaskan, sehingga anak-anak kalau belajar duduk bermalas-malasan di selasar. Selasar bersih, tiap hari dipel. Suasana lingkungan sekolah yang asri, nuansa alam dijaga,” terang Basyid. (*)

Abdul Basyid Has, Putra Tempatan Berwawasan Nasionalis Religius

Abdul Basyid Has, Putra Tempatan Berwawasan Nasionalis Religius

Geluti Dunia Politik

Sewaktu Basyid pernah jadi guru kemudian pernah jadi pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batam, ia aktif terlibat di organisasiorganisasi massa (ormas) antara lain Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Batam, GP An­sor Provinsi Kepri, hingga akhirnya masuk ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Saat bergabung dengan PKB, ada ketentuan PNS yang ikut berpolitik harus berhenti jadi PNS jika mengiku­ti partai politik (parpol). Se­telah melakukan perenungan panjang, akhirnya Basyid me­milih tetap eksis di parpol. Pertimbangan Basyid memilih parpol, sebagai langkah perjuangan menampung segala aspirasi masyarakat.

 

Bergabungnya Basyid ke PKB, ia dikenal berpegang teguh pada budaya Melayu, religius, dan plural. Bahkan juga dikenal dengan sosok yang menerimaan perbedaan, dengan tetap berpegang teguh prinsip keagamaan. Meskipun sudah berkecimpung di dunia politik, tak menyurutkan cita-cita­nya mendirikan dunia pendidikan. Sehingga, tahun 1988 Basyid mengajukan permohonan lahan ke Badan Pengusahaan (BP) Kawasan (dulu namanya Otorita Batam,red) sekitar tiga hektare lebih.

Setelah lahan didapat, tahun 1990-1991 mulai membangun, dengan membuat akte yayasan. Nama yayasan diambil dari moyang Abdul Basyid yaitu Tuan Guru Haji Abdul Gani, sehingga namanya menjadi Yayasan Pendidikan Haji Abdul Gani. Setelah ada yayasan, Basyid membuat keputusan untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang bernama Hang Nadim Malay School.

Awalnya membuat play group, muridnya hanya dua orang (salah satunya anak Basyid,red) sedangkan gurunya empat orang. Guru malah lebih banyak dari muridnya. Terus berkembang sehingga dibangun Taman Kanak-Kanak (TK). Setelah anak Basyid tamat TK, Basyid membangun

 

SD yang pada awalnya untuk menampung pendidikan anaknya masuk SD. Setelah anak Basyid tamat SD, Basyid tertarik membuka SMP terus berkelanjutan hingga hari ini.

Saat ini, Sekolah Hang Nadim Malay School terus berkembang bagus. itu tak lepas dari kerja keras Basyid mencari inovasi dan terobosan-terobosan meningkatkan kualitas. Di antaranya ia menggandeng Profesor DR KH Muhammad Tholhah Hasan yaitu mantan Menteri Agama di era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Profesor Tholhah seorang pendidik juga seorang alim ulama yang mempunyai lembaga pendidikan Islam (LPI) Fisabilillah Malang.

”Profesor Tholha mengirim beberapa orang profesor sebagai konsultan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Sekolah Islam Hang Nadim Malay School. Hingga hari ini, Hang Nadim Malay School sudah sembilan tahun bekerja sama dengan LPI Fisabilillah Malang. Di samping saya sendiri melakukan inovasi-inovasi dengan kreativitas, saya menemukan beberapa hal. Seperti membuat Hang Nadim Malay School selain mengembangkan akademik juga menerapkan tahfidz (hafal) Quran,” jelas Basyid.

Siswa di Hang Nadim Malay School dari pukul 07.00 sampai 09.00 WIB setiap hari dari Senin sampai Kamis meng­hafal (tahfidz) Alquran. Hari Jumat menyetor hafalan Alquran. Tahfidz Quran ini sudah tiga bulan diuji coba, hasilnya ada anak yang menghafal sampai 1 juz Alquran.

”Kita berharap semampu anak-anak baik itu SD maupun SMP me­nyelesaikan beberapa juz,” kata Basyid membeberkan pandangannya membekali anak didik dengan nilai-nilai Islami tak sebatas dipelajari tapi diterangkan langsung di lingkungan sekolah, kemudian ke lingkungan keluarga dan masyarakat. ***

Abdul Basyid Has, Tokoh Inovatif Pendidikan Kepri

Abdul Basyid Has, Tokoh Inovatif Pendidikan Kepri

Abdul Basyid Has lahir 10 Desember 1965 di Pulau Terong, sebuah pulau kecil di Kecamatan Belakang Padang. Ia merupakan jati diri putra tempatan dengan resam adat Melayu yang identik dengan nilai-nilai Islami. Sejak kecil dirinya bercita-cita ingin merubah warga Melayu di kampung halamannya, dari keadaan kemiskinan dan  ketertinggalan. Salah satu cara mengubahnya melalui pendidikan.

Abdul Basyid Has tinggal di samping Sekolah Islam Hang Nadim Malay School Tiban V Patam Lestari. Sekolah tersebut merupakan milik Abdul Basyid yang terbentuk atas cita-citanya ingin meng angkat harkat dan martabat sumber daya manusia (SDM) warga Melayu, supaya bisa berkiprah di nasional dan Internasional.

Visi tersebut tercermin dari susunan kata dari nama sekolah itu sendiri yakni Sekolah Islam yaitu ingin menerapkan pendidikan karakter bagi anak didik di sekolah ini dengan nilai-nilai Islami. Kemudian Hang Nadim merupakan seorang Laksamana atau panglima perang Melayu gagah perkasa yang mengusir penjajah Postugis dari tanah Melayu. Lalu Malay School merupakan bahasa Inggris yang artinya Sekolah Melayu. Nama tersebut hanya sebuah filosofi saja, sebagai ke­cintaan saya sebagai jati diri Melayu asli, bagaimana caranya meninggikan seranting masyarakat Melayu bisa berkiprah secara nasional maupun internasional. Semuanya berawal harus melalui pendidikan,” ungkap Basyid.

Pendidikan bisa mengubah dari kemiskinan dan ketertinggalan, kata Basyid, telah dibuktikan pamannya Profesor Abdullah Yasin kuliah di Universitas Al Azhar Mesir yang sekarang berdomisili di Malaysia. Pamannya itu, pernah bertugas di Kedutaan Besar Saudi Arabia di Kualalumpur.

”Saya termotivasi melihat paman saya, sehingga saya mengambil kesimpulan untuk berubah dari keadaan kemis kinan dan ketertinggalan harus melalui pendidikan,”ujar Basyid.

Basyid secara blak-blakan menyebut dirinya sejak kecil sudah terbiasa dengan kesederhanaan dan segala keterbatasan di kampung halamannya. Justru dengan kesederhanaan dan segala keterbatasan itulah, mendorong Basyid giat sekolah. Basyid Sekolah Dasar (SD) Negeri Nomor 12 Pulau Terong tahun 1974-1980. Setelah tamat SD, Basyid melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 09 Moro, Karimun tahun 1980 – 1983. Tamat dari SMP Basyid memilih melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Tanjungpinang, tahun 1983 – 1986. Selesai SPG, Basyid melanjutkan pendidikannya ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Pekanbaru tahun 1986 – 1990 (kini telah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN).  Sekarang S2 di UIN Susqa jurusan Manajemen Pendidikan Islam. Sebenarnya, Basyid sempat mengecap pendidikan S2 di Universitas Islam Internasional di Kualalumpur, Malaysia tapi hanya sebentar.

Selesai menimba ilmu pengetahuan, barulah Basyid memikirkan pendidikan di kampung halamannya di Pulau Terong. Sebelum membuka pendidikan, Basyid pernah mengajar di MIN Bengkonglaut dan Tsanawiyah Pulau Terong. Setelah itu, ia mendirikan sekolah-sekolah madrasah dan sekolah-sekolah agama di seputaran Pulau Terong.

”Cuma memang, sekolah tersebut tak bisa berkembang baik mutu dan segala macamnya, karena sekolah yang saya dirikan lebih ke sosial membantu warga kampung halaman. Begitu juga donatur untuk melaksanakan atau menggerakkan sekolah tersebut tak ada, sehingga perkembangannya tersendat- sendat,” ungkap Basyid. (*)

Hadapi Pileg Pilpres, PKB Kepri siapkan Strategi Pemenangan Khusus

Hadapi Pileg Pilpres, PKB Kepri siapkan Strategi Pemenangan Khusus

MONITOR, Batam – Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa Provinsi Kepulauan Riau, Abdul Basyid HAS menyatakan dirinya telah menyiapkan strategi khusus untuk menghadapi hajat nasional pilpres dan pileg serentak tahun 2019 mendatang.

Baginya, sudah bukan zamannya lagi pemilu dihadapi dengan spekulasi dan menggunakan kampanye konvensional. Era teknologi informasi sudah merambah sampai ke pedalaman.

Menurutnya cara-cara lama dalam berkampanye jika terus dipakai hanya akan membuat kita tertinggal. Apalagi kids zaman now atau generasi milenial sekarang sudah punya hak pilih.

“Karena itulah saya menyiapkan strategi khusus. Basisnya riset dan pendekatan kampanyenya mutakhir, ujarnya saat dihubungi terkait persiapan pemilu 2019, Sabtu sore (24/2).

Abdul Basyid HAS yang juga akan menjadi bacaleg DPR RI dari daerah pemilihan Provinsi Kepri menjelaskan pentingnya figur masuk ke bursa program secara aktif.

Di bursa program, publik akan memilih figur yang punya gagasan bagus, punya cara baik, memiliki komitmen jelas, khususnya berkait dengan preferensi atas kepentingan mereka.

“Pemilih akan memilih figur yang bisa mewakilinya, bisa memperjuangkan kepentingannya. Itu rumus sederhananya,” ujarnya.

Abdul Basyid HAS mengatakan muara dari strategi pemenangan pileg pilres itu adalah terpilihnya sebanyak-banyaknya kader PKB di parlemen dan juga pasangan capres dan cawapres yang diusung.

Sementara itu, Sunariah Mohammad Yusuf salah seorang kader PKB Batam menyambut baik strategi yang akan diterapkan partainya untuk pemilu 2019 nanti. Ia menekankan pentingnya kader perempuan untuk maju dan menang sehingga akhirnya duduk di parlemen dan berjuang memajukan bangsa.

“Saya selaku kader perempuan cukup bersemangat dan tertantang untuk bangkit dan ikut serta dalam pileg nanti. Aspirasi dan preferensi atas perjuangan perempuan akan lebih mudah dilakukan jika kita hadir di sana dan punya hak suara,” pungkasnya. (Sumber: Monitor)

Parpol Bergerak Kenalkan Nomor Urut

Parpol Bergerak Kenalkan Nomor Urut

BATAM – Parpol-parpol di Kepri langsung bergerak mensosialisasikan nomor urut parpol mereka sebagai peserta Pemilu 2019. Sebagian malah sudah melakukan penjaringan calon anggota legislatif

Ketua DPW PKB Kepri Abdul Basyid Has menganggap nomor urut 1 yang diperoleh PKB, diyakini akan memberikan keuntungan bagi partainya karena mudah diingat. Selain itu, nomor urut satu akan membawa perubahan yang lebih baik dan akan lebih besar lagi posisi PKB dari saat ini.

“Angka satu ini memang sudah diharapkan sejak awal, sebab kami memandang angka ini merupakan angka yang baik dan akan membawa kesuksesan bagi semua kadernya,” kata Basyid.

Sumber: Sindo Batam